Wednesday, September 27, 2017

BROOD EN BROTER

Sejak punya anak, kalau janji ketemuan dengan teman tuh rasanya kok rempong banget. Apalagi sejak anak-anak sudah mulai nggak bisa diam. Makanya lebih sering milih ketemuan di mol, biar kalau waktu mereka bosen duduk di restoran, bisa diajak muter-muter sama pengasuhnya. Nah, waktu thanks to Instagram, jadi tahu deh ada restoran baru yang menyediakan playroom. Brood en Broter, namanya. Menarik banget kan! Langsung deh ngajakin geng buibu untuk nyobain.

diambil dari instagram @broodenbotterjkt

Sebenarnya restoran ini sudah buka sejak pukul 8 pagi. Cuma berhubung kita adalah buibu sub-urban yang rempes, jadi janjiannya jam 11-an. Perjalanan dari Bintaro menuju Bangka jam 10 pagi lumayan lancar, meski ada beberapa titik yang agak padat merayap. Tapi lumayan deh, nggak sampai bikin keriting menghadapinya. Kebetulan hari itu aku nyoba nyetir sendiri, dengan duo bocah duduk manis di carseat kursi belakang bersama pengasuhnya. Berhubung lokasinya agak jauh dari rumah, jadi Aifa dan Albarra ikutan nebeng. Sebenarnya jam segitu adalah jam tidurnya si kembar, dan untungnya sudah aku susuin dulu sebelum masuk mobil. Jadi selama perjalanan cukup putarkan nursery rhymes dan mereka pun tertidur dengan pulas sampai tujuan.


Berhubung nih restoran lagi hype banget, jadi waktu kita nyampe, parkirannya penuh banget. Padahal space untuk parkirannya lumayan bisa menampung banyak mobil. Sampai akhirnya terpaksa deh markir di mini market yang letaknya di seberang. Dari luar, bangunan restoran ini terlihat sangat minimalis. Pengunjung saat itu bisa dipastikan 99% adalah buibu. Playroom-nya pun dipenuhi oleh beberapa anak yang asyik bermain, disaat para ibu sibuk dengan urusannya masing-masing. Langsung deh Jazea masuk situ ditemani pengasuhnya. Sementara Jaziel masih pulas tertidur di gendonganku. Dekorasi playroom-nya cantik sekali. Favoritku adalah gambar mural hewan dan hiasan pesawat yang digantung di langit-langit.







Menariknya lagi, restoran ini menyediakan satu ruangan khusus untuk nursery/changing room. Waktu salah satu pelayannya buka pintu ruangan yang nyaru sama dinding, tampak ada kasur ukuran Queen disitu. Terus dengan polosnya aku nanya, "anak saya boleh ditidurin disitu nggak ya, Mas?". Eh, Masnya cuma senyam senyum doang. So I'll take that as a no. Padahal lumayan banget kalau bisa nidurin disitu ya. Haha. By the way, ruangannya cukup luas. Yah, ukuran standar kamarlah. Cukup nyaman untuk nyusuin dan ganti popok disitu. Namun yang disayangkan, nggak ada mushola disini. Pelayannya malah menyarankan untuk ke mesjid yang jaraknya beberapa ratus meter dari situ. Padahal kalau kasur di nursery/changing room diganti dengan sofa untuk nyusuin pasti masih bisa menyisakan space untuk numpang shalat. Well, just a thought.





Untuk makanan sendiri sih, meski porsinya cilik untuk ibu menyusui, tapi rasanya cukup enak kok. Meski pesananku datangnya luama banget, tapi terobati dengan rasanya yang nikmat. Aku pesan Lidah Sambal Hejo yang ternyata adalah salah satu best seller. And I have no complain at all. Lidahnya terasa lembut dan creamy banget. Pedasnya pun pas.



Kalau dilihat dari akun instagramnya, mereka punya menu Pink Burger yang ternyata cuma tersedia saat makan pagi (8am - 10.30am). Dan amat disayangkan, untuk tempat yang punya target market ibu/anak begini, variasi menu yang kids friendly terasa kurang banyak. Menurut pelayannya sih, tadinya ada Spaghetti Bolognaise, cuma entah kenapa hari itu kosong. Tapi di daftar menu juga nggak dicantumin sih. Akhirnya aku mesan Nasi Goreng Kampung tanpa cabe buat si kembar. Berhubung enak, jadi makannya pada lahap deh. Oh iya, restoran ini juga menyediakan piring dan gelas plastik warna warni untuk anak-anak. Donat kampungnya cepat banget ludes. Jadi waktu pelayannya bilang sisa 2, langsung deh kita pesan. Takut nggak kebagian. Haha.



Overall, restoran ini masuk kedalam list salah satu restoran favorit kalau mau nongkrong dengan sesama ibu-ibu. Tempat yang bikin ibu senang, anakpun riang. Jadi penasaran pengen nyobain menu breakfast-nya deh!

Thursday, June 1, 2017

Family Planning dengan Andalan


Aku termasuk orang yang senang melakukan sesuatu hal dengan spontan. Berbeda dengan suamiku yang lebih terorganisir. Tidak jarang kami bisa berbeda pendapat akan sesuatu. Tapi kalau sudah urusan anak, tentu saja tidak ada kata spontan dalam kamus kami. Segalanya harus direncanakan dengan baik demi kepentingan anak, termasuk menambah adik buat Jazea dan Jaziel. Pertanyaan kapan nambah momongan kayaknya sudah jadi template setelah melahirkan dan anaknya sudah mulai besar, ya nggak sih? Entah sekedar basa basi, ingin tahu alias kepo atau memang kelewat perhatian. Dulu sebelum punya anak, kalau ditanya ingin punya berapa anak, aku pasti mantap menjawab sebanyak-banyaknya. Apalagi mengingat perjalanan aku dan suami dalam memiliki momongan cukup berliku dan butuh usaha yang lebih. Tapi setelah hampir satu tahun ini menjalani peran sebagai orang tua, aku dan suami jadi mikir. Memiliki anak itu tanggung jawab yang super duper besar. Bukan hanya sekedar melahirkan saja, tapi justru saat anaknya lahir dan mulai tumbuh besar, disitulah tantangan dimulai. Sanggupkah kita mendidik anak-anak menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi orang banyak?

Hey, don’t get me wrong here!

Aku sangat bahagia dan tidak hentinya bersyukur akhirnya bisa merasakan jadi Ibu. Apalagi langsung dikaruniai anak kembar, cewek cowok pula. Tapi melihat mereka tumbuh bersama, terkadang suka kasihan karena perhatianku jadi harus terbagi dua sejak mereka bayi. Apalagi saat mereka sudah mulai tumbuh besar dan semakin demanding seperti sekarang ini. Saat mereka sudah tahu keinginannya dan meminta seluruh perhatian tertuju padanya. Sementara disaat yang lain kembarannya juga membutuhkan hal yang sama. Di satu sisi aku merasa bahagia tidak terkira ada dua anak yang sayang sama aku sampai segitunya banget. Tapi di sisi lain, kasihan juga sih. Karena pada hakikatnya, bayi itu butuh perhatian 100% tertuju pada mereka. Sementara anak kembar sudah harus berbagi sedari mereka masih dalam perut.

Akhirnya aku dan suami sampai pada keputusan kalau kita harus mengatur jarak yang pas untuk menambah adik untuk Jazea dan Jaziel. Harus memastikan dulu saat mereka berdua benar-benar siap dan cukup besar untuk bisa mengemong calon adiknya nanti. Dan yang paling penting, kesiapan aku dan suami untuk bisa berlaku adil dalam mendidik untuk anak-anak kami. Selain itu punya anak di Jakarta kan juga tidak murah. Sebagai orang tua, tentu saja kami ingin memberikan yang terbaik buat anak, terutama dari segi pendidikan mereka.

Nah, salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam merencanakan jarak kehamilan adalah dengan menggunakan alat kontrasepsi. Meskipun aku dan suami tergolong pasangan yang butuh perjuangan extra saat memiliki anak, tapi tidak ada salahnya bagi kami untuk merencanakan dengan baik. Awalnya pemilihan alat kontrasepsi ini cukup membingungkan karena minimnya informasi yang aku punya. Namun akhirnya saat berkunjung ke website Andalan di tundakehamilan.com, aku jadi sangat terbantu karena banyak sekali informasi mengenai pilihan alat kontrasepsi dan beragam artikel yang membantu perencanaan keluarga yang isinya sangat bermanfaat. Selain itu, saat aku sudah yakin dengan pilihanku ingin memakai kontrasepsi apa, Andalan juga menyediakan alat kontrasepsi yang cocok untukku dan suami. Dan baru tahu juga kalau ternyata Andalan punya 16 produk kontrasepsi yang terdiri dari 6 macam IUD, 4 macam pil KB, 1 implan, 1 kondom Andalan, serta 4 macam KB suntik. Kalau masih galau juga, coba deh temukan informasi soal alat kontrasepsi dan perencanaan keluarga ini lewat akun Facebook dan Instagram Andalan. Ada banyak sekali insight yang bisa didapatkan disana.

Family planning dalam membina rumah tangga ternyata penting banget lho, karena dapat berpengaruh pada kebahagiaan. Segala sesuatu yang terencanakan dengan baik dan matang, dapat pula menjadikan kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga. Dan percayalah, kunci kebahagiaan rumah tangga ada pada Ibu. Kalau Ibunya bahagia, dijamin dapat menular dengan cepat pada seluruh anggota keluarga. Setuju?

Wednesday, January 11, 2017

CERITA MELAHIRKAN

Seperti janji saya di postingan sebelumnya, saya ingin berbagi cerita melahirkan. Semoga saja tidak basi ya. Hehe.

Saat memasuki usia kehamilan 35 minggu, dokter mulai menanyakan kepada kami tanggal yang kami pilih untuk operasi cesar. Sebenarnya saya dan suami sih tidak punya tanggal khusus, yang penting si kembar bisa lahir cukup bulan dengan keadaan sehat dan lengkap semuanya. Di usia 35 minggu saya pun mulai suntik pematangan paru sebanyak 3 kali. Ini sebenarnya tindakan preventif mengingat kehamilan kembar sangat beresiko prematur. Bahkan ketika usia kehamilan 36 minggu, dokter bilang sebenarnya kalau saya mau operasi cesar sudah bisa dikerjakan. Namun saat itu saya masih berusaha ingin mencapai usia kehamilan 38 minggu. Saya dan suamipun sempat galau karena kami punya dua tanggal pilihan. 25 Mei yang jatuh pada hari Rabu dan sesuai tanggal pernikahan kami atau hari Jumat, 27 Mei agar tanggalnya sama dengan ulang tahun saya. Setelah melalui berbagai pertimbangan, kamipun mantap memutuskan operasi cesar dilakukan tepat saat usia kehamilan 38 minggu pada hari Rabu tanggal 25 Mei 2016.

Manusia cuma bisa berencana, namun keputusan terakhir selalu Tuhan yang menentukan. Pagi itu, Jumat tanggal 20 Mei 2016 saya berencana hendak melakukan tes darah di Prodia sebagai persiapan menjelang operasi cesar. Namun saat mandi, saya merasa ada air yang terus-terusan merembes dan tidak bisa saya kontrol. Saya buru-buru menyelesaikan mandi lalu bersiap-siap pakaian. Tapi masih sempat dandan sih sambil deg-degan nggak sabar. Pengen terlihat cantik saat bertemu dengan 2 malaikat kecil yang telah lama saya nantikan. Justru Mama Papa saya yang lebih panik ketika tahu air ketuban saya pecah sebelum waktunya. Kamipun buru-buru berangkat ke RS Pantai Indah Kapuk. Syukurlah jalanan pagi itu sangat bersahabat. Lancar dan tidak macet sama sekali. Suami saya yang sudah berada di kantor langsung menyusul ke PIK saat tahu ketuban saya pecah.

Sesampainya di rumah sakit, saya langsung dibawa ke ruang pemeriksaan sambil suster menelepon Dr. Handi untuk mengabarkan kondisi saya. Sebenarnya dokter sempat menyuruh suster untuk mengecek bukaan. Tapi saya keburu keringat dingin ketakutan saat suster berusaha memasukkan jari  akhirnya batal deh. Hehe. Operasi saya dijadwalkan pada pukul 12 siang, tepat saat shalat jumat berlangsung. Kebijakan di RS PIK, suami tidak diperkenankan untuk masuk saat operasi berlangsung. Dokter sih bilang kalau ingin mendokumentasikan bisa memberi kamera atau handphone pada suster. Tapi entah kenapa saya lupa, akhirnya sama sekali tidak ada dokumentasi apapun saat si kembar keluar dari rahim saya. Selama operasi berlangsung, saya masih sepenuhnya sadar cuma agak mati rasa di bagian pinggang ke bawah. Dokterpun terus mengajak saya ngobrol selama operasi. Hingga akhirnya pada pukul 12.54 terdengarlah suara anak lelaki yang menangis kencang. Disusul oleh teriakan bayi perempuan pada pukul 12.55. Alhamdulillah, wa syukurilah. Pertanyaan pertama saat si kembar lahir, "keduanya lengkap kan dok? Sehat tidak kurang apapun?". Biasalah, ketakutan ibu-ibu hamil yakan. Setelah keduanya keluar dari rahim, saya cium keduanya tanpa melihat mukanya secara jelas lalu barulah dibersihkan oleh para suster. Belakangan barulah dokter memberi tahu kalau ketuban saya pecah karena Jaziel sudah kesempitan di dalam perut.


Teuku Muhammad Jaziel Abdalla Machmud
 

Cut Nyak Jazea Amidala Machmud



 Bersama Nenek, Neknyak, Nekku dan Ayahcik

Nah, baru setelah operasi selesai saya ngerasa blank tuh. Cuma ingat dipindahin ke kamar terus abis itu udah nggak sadar sama sekali. Teler banget rasanya. Baru agak sadar jam 4 sore. Sempat kesal dan kaget karena saya belum bertemu si kembar setelah pertemuan sesaat di ruang operasi. Saat bertanya pada suster, katanya si kembar harus dirawat didalam inkubator karena berat badannya yang rendah. Ketika lahir, berat badan Jaziel 2,2kg dan Jazea 1,8kg. Susterpun bilang kalau anak-anak saya harus diberi susu formula karena tidak memungkinkan bagi saya untuk memberikan ASI. Padahal sejak awal saya sudah berniat dan sangat positif kalau bisa dan mau memberi ASI. Sempat terjadi perdebatan sengit sih sampai suami saya harus meminta bantuan Dr. Handi untuk ngomong ke dokter anak. Akhirnya saya dan suami harus menandatangani surat pernyataan kalau kami menolak beberapa tindakan dari rumah sakit. Saat itu agak deg-degan sih, takut mengambil keputusan yang salah. Tapi saya percaya insting saya sebagai seorang ibu. Apalagi bekal ilmu yang saya dapat ketika ikut kelas menyusui. Sayapun baru bisa bertemu dengan si kembar pada pukul 8 malam. Rasanya terharu sekali saat pertama kali bisa menggendong mereka di pelukan saya. Seperti mimpi.

 Berhubung fotonya tidak mengenakan jilbab, jadi terpaksa harus ditutupi stiker :))

Meski ASI saya sudah langsung keluar di hari pertama, tapi bukan berarti proses menyusui bisa mulus. Jaziel sih sudah bisa langsung nyedot dari awal tanpa perlu drama apapun. Jazea nih yang butuh perjuangan dan kesabaran untuk melatih supaya bisa menyedot dari payudara. Untuk para newborn, terutama mereka yang berat badannya rendah, diusahakan untuk disusui setiap 2 jam sekali. Karena Jaziel dan Jazea harus masuk dalam inkubator, jadi mereka tidak bisa rooming in dengan saya. Alhasil setiap 2 jam sekali saya harus menyusui mereka di ruang menyusui. Untungnya saya mendapat kamar yang berseberangan dengan ruang menyusui. Jadinya tidak terlalu capek untuk bolak balik. Pernah sangking excitednya, tengah malam saat suster masuk ke kamar saya untuk cek tensi, saya malah menyangka alat tensi itu adalah salah satu bayi yang ingin disusui. Kalau diingat, lucu juga sih ketemu dengan ibu-ibu lain yang juga menyusui anaknya. Saling bertukar cerita. Dan disitu saya baru tahu, ternyata ada susu formula vegetarian berbahan kedelai bagi bayi yang alergi susu sapi. Perjuangan sih memberi ASI pada bayi kembar, apalagi di masa-masa awal setelah operasi. Mengalami lecet sudah pasti. Bahkan kaki saya pernah bengkak banget karena sempat beberapa kali menyusui dengan keadaan kaki yang ngegantung. Padahal selama hamil kakinya tidak sampai mengalami pembengkakan. Sempat takut banget sih, tapi alhamdulillah bisa kembali normal setelah posisi menyusuinya benar.

Kaki bengkak pasca melahirkan karena posisi menyusui yang salah

 

Sebenarnya jatah saya berada di rumah sakit cuma 3 hari saja. Tapi karena bilirubin Jaziel dan Jazea sempat tinggi, dokter menyarankan agar mereka extend sampai bilirubinnya normal. Sebenarnya saya sudah bisa pulang, tapi tidak tega meninggalkan si kembar di rumah sakit. Akhirnya sayapun ikut nambah hari. Dokter anak pun memberi target kepada saya dan suami untuk bisa menaikkan berat badan si kembar agar bisa cepat pulang. Saya semangat banget tuh pengen ngebuktiin ke pak dokter kalau ASI saya cukup buat si kembar. Alhamdulillah setelah 1 minggu menginap di rumah sakit, berat badan dan bilirubin Jaziel Jazea normal sehingga kamipun diperbolehkan pulang.

Punya anak, apalagi kembar itu bukan hanya perlu persiapan mental dan fisik tapi juga perlu dipikirkan persiapan finansial. Biaya melahirkan kembar saja ada tambahan sampai 50% dibandingkan persalinan biasa. Setelah melahirkan, harus mempersiapkan lagi biaya pendidikan. Tiap kali mendengar pengalaman teman soal biaya masuk sekolah cukup bikin tegang sih. Sanggup nggak ya? Nah, bagi teman-teman yang tengah hamil dan mempersiapkan persalinan, coba deh ikutan lomba yang diadakan oleh @womanation.id. Hadiahnya menarik sekali loh. Biaya persalinan gratis di RS Brawijaya dan asuransi pendidikan dari Avrist Assurance. Caranya gampang banget:
  1. Follow instagram @womanation.id, @avristassurance dan @rs_bwch
  2. Posting foto kehamilanmu dan ceritakan pengalaman dan perjuanganmu dalam mendapatkan buah hati serta mengapa kamu harus jadi pemenang. Jangan lupa sertakan hashtag #womanationID #womanationforMOMS
  3. Tag @womanation.id, @avristassurance @rs_bwch serta 5 orang sahabat perempuan kamu di foto tersebut
  4. Akunnya jangan dilock ya, agar cerita kamu dapat direpost
Kompetisi ini berlangsung sampai 15 Januari 2017. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 30 Januari 2017. Info lengkap bisa hubungi ke 087889557553 (WA only).

Avrist Assurance adalah perusahaan asuransi jiwa patungan pertama di Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1975. Dengan konsep "Avrist Total Solution", Avrist menyediakan berbagai solusi keuangan untuk asuransi jiwa, asuransi kecelakaan dan kesehatan, asuransi berbasis syariah, asuransi jiwa kredit dan pensiun untuk perorangan maupun korporasi. Sejak tahun 2010, Avrist bermitra dengan Meiji Yauda Life (Meiji Yasuda Life Insurance Company) yang merupakan salah satu pemimpin pasar industri asuransi jiwa di Jepang dengan pengalaman lebih dari 130 tahun. Berlandaskan visi "Satu polis Avrist di setiap rumah tangga di Indonesia", Avrist berkomitmen untuk memajukan kehidupan gemilang yang bermakna bagi karyawan, mitra bisnis dan nasabahnya.

Coba lomba ini diadakan saat saya hamil dulu, ya ;)

Friday, September 2, 2016

MY BABY MOM'S GATHERING

Dari sejak hamil aku tuh paling takut sama yang namanya nyamuk. Kebayang kan, betapa gigitan binatang sekecil itu dapat berpengaruh begitu besar untuk kesehatan kita? Apalagi waktu hamil kemarin lagi dihebohkan banget dengan virus Zika yang berbahaya bagi janin karena dapat menyebabkan mikrosefalis, yaitu kerusakan otak yang menyebabkan kepala bayi berukuran kecil. Belum lagi bahaya demam berdarah (DBD). Duh, naudzubillahi min dzalik ya. Semoga anak-anak kita semua dihindarkan dari virus berbahaya.

Nah, pas banget nih. Beberapa waktu yang lalu aku mendapat undangan untuk menghadiri #MyBabyMomsGath yang diadakan oleh My Baby di Kota Kasablanka. Menarik sekali pembahasannya, yaitu soal pencegahan virus Zika dan virus Demam Berdarah (DBD) pada anak. Kebetulan di daerah rumahku lagi banyak banget nyamuk-nyamuk nakal yang meskipun disemprot masih saja bergentayangan. Jadi pembahasan hari itu pas banget dengan ketakutanku saat ini. Karena ilmu yang didapatkan hari itu sangat bermanfaat buat ibu-ibu, terutama yang anaknya masih bayi dan balita, jadi aku kepikiran kenapa nggak dibagikan disini. Because sharing is caring, 'aite?

photo courtesy of @chachathaib

Tahu nggak sih, kalau Indonesia merupakan negara kedua dengan angka kejadian DBD tertinggi di dunia setelah Brazil? Sementara kasus virus Zika di Indonesia pertama kali ditemukan di Jambi tahun 2015 yang lalu. Virus ini cepat sekali menyebar dan sayangnya belum ditemukan obat ataupun vaksinnya. Penyebab DBD dan virus Zika sumbernya adalah gigitan nyamuk aedes aegypti. Gejala yang dialami penderita hampir sama, yaitu bintik merah pada kulit, sakit kepala dan nyeri serta demam. Masa inkubasi sekitar 2-7 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi. Yang membedakan, penderita DBD akan mengalami penurunan trombosit, mimisan hingga mual dan muntah akibat terjadi pendarahan di perut. Sementara penderita virus Zika akan muncul mata kemerahan. Bayi atau balita pun rentan terkena virus ini. Berhubung belum ditemukan vaksinasi yang dapat memerangi penyakit DBD maupun Zika, maka pengobatan yang dilakukan bersifat suportif, yakni istirahat cukup, perbanyak minum air putih, mengonsumsi obat penurun panas dan makanan bergizi. Namun sebelum terjangkiti, ada baiknya kita melakukan upaya pencegahan, yaitu dengan 3M (Mengubur, Menguras, Menutup) untuk memberantas sarang nyamuk.

Seakan menangkap kekhawatiran aku, My Baby mengeluarkan inovasi baru yaitu My Baby Minyak Telon Plus yang memiliki 2 manfaat sekaligus, yaitu untuk menghangatkan dan melindungi bayi dari gigitan nyamuk hingga 6 jam dengan kandungan alami yang aman dan tidak menimbulkan iritasi. My Baby Minyak Telon Plus mengandung Citronella Oil (minyak sereh) yang berfungsi secara aktif sebagai pengusir nyamuk dan serangga. Selain itu, dilengkapi pula oleh chamomile untuk mencegah iritasi pada kulit bayi. Sebagai pecinta minyak telon, aku sih excited banget! Selain harumnya yang enak banget di kulit bayi, Jaziel dan Jazea pun dapat terlindungi dari gigitan nyamuk nakal. Dan selama ini tiap kali ada bentol gigitan nyamuk, aku selalu olesin My Baby Minyak Telon Plus. Surprisingly, bentolnya langsung kempes lho! Yah, setidaknya ketakutan aku sebagai seorang Ibu terhadap virus Zika dan DBD sedikit teratasi setelah dibekali ilmu dan juga My Baby Minyak Telon Plus.



Nah, bonusnya nih hari itu aku juga dapat pembekalan untuk bisa membangun bonding time dengan anak. Salah satunya adalah dengan melakukan My Baby Lovely Spa yang terdiri dari Baby Massage, Baby Bath dan Baby Grooming. Tujuannya adalah untuk mengokohkan ikatan antara ibu dan anak, terutama bagi para ibu bekerja. Selain itu, kegiatan ini juga dapat menstimulasi sistem syaraf bayi. Dari 3 rangkaian kegiatan tersebut, sekitar 70% bonding dan stimulasi antara ibu dan bayi dapat terjalin ketika ibu mempraktekkan Baby Massage. Dan sisanya 30% terjalin ketika ibu melakukan Baby Bath dan Baby Grooming. Rangkaian kegiatan ini dapat dipraktikkan sendiri tanpa harus mengunjungi Baby Spa. Justru lebih baik dipraktikkan langsung oleh sang ibu pada anaknya agar terbentuk ikatan tali kasih yang yang lebih kuat. Memahami hal ini, My Baby menyediakan rangkaian produk perawatan bayi yang lengkap dan dapat digunakan pada proses kegiatan Baby Massage, Baby Bath dan Baby Grooming disertai dengan edukasi Baby Spa. Menarik banget kan? Yuk, mari mulai membangun waktu yang berkualitas dengan anak :)



MY BABY Website

Tuesday, July 26, 2016

CERITA HAMIL PASCA IVF

Bagi saya hamil ini adalah anugerah. Yah, mengingat kehamilan ini sudah sangat saya dan suami nanti-nantikan. Tapi layaknya perempuan hamil pada umumnya, saya pun mengalami beberapa symptomps yang bikin parno atau tidak mengenakkan. Saya tidak mau menyebutnya sebagai keluhan, karena kok kesannya tidak bersyukur banget. Saya hanya ingin berbagi cerita disini, sebagai pengingat buat saya sendiri dan syukur-syukur bisa bermanfaat bagi kamu yang membacanya. So here it goes.


TRIMESTER PERTAMA (1-12 minggu)
Tepat 2 minggu setelah Embryo Transfer, saya kembali ke Penang untuk menemui Dr. Devindran dan mengecek apakah saya hamil atau tidak. Alhamdulillah wa syukurilah, dari hasil tes darah bHCG saya menunjukkan kalau saya positif hamil. Selama 2 minggu penantian, saya sama sekali tidak berani untuk testpack. Sudah terlalu trauma kalau hasilnya ternyata negatif. Hasil tes bHCG saya saat itu 372,6 dengan perkiraan hamil 4 minggu. Salah seorang teman saya dari Geng TTC, Ima, memberi tahu kalau hasil bHCG tinggi bisa berpotensi memiliki anak kembar. Saat itu saya tidak mau terlalu berharap. Dikasih hamil singleton saja sudah bersyukur sekali, apalagi kembar.

Tidak banyak symptomps yang saya rasakan di awal kehamilan. Saya bahkan belum terasa mual, hanya kram biasa dan payudara yang terasa amat sangat berat. Selera makan pun masih biasa saja. Tapi di awal kehamilan ini saya tetap melanjutkan pola makan seperti masa 2 weeks wait. Ya, makan sehat tanpa MSG dan rebusan putih telur setiap harinya. Kalaupun ada beberapa makanan yang saya idam namun tidak sehat, saya minta penjualnya untuk memasak tanpa MSG dan saya makan secukupnya saja. Karena belum terlalu banyak perubahan yang saya rasakan, saya malah sempat berpikir benarkah saya hamil atau hanya khayalan semata. Apalagi ada beberapa orang yang selalu bertanya, "udah mual belum?", "ngidam apa?", dsb..

2 minggu kemudian, saya pun kembali ke Penang menjumpai Dr. Devindran untuk mengecek kondisi jantung bayi. Pagi itu, saya mulai mual dan hampir muntah. Saya pikir cuma masuk angin biasa karena belum sarapan. Saat pemeriksaan, Dr. Devindran pun menyampaikan kabar bahagia. We are expecting twins! Saat itu saya cuma bisa bengong. Antara percaya dan tidak dengan apa yang diucapkan oleh Dr. Devindran. Rasanya ingin cubit diri sendiri biar yakin kalau ini bukan mimpi.

Rasa mual mulai intense saya rasakan sepulang dari Penang. Kalau perempuan hamil biasanya mengeluh setiap kali mual, saya malah menanti-nantikan sekali.  Mual yang saya rasakan itu seperti mabok ketika melakukan perjalanan. Belum sampai ke taraf muntah, cuma mual saja dan badan seperti tidak berdaya. Pernah satu hari saya tidak merasakan mual seperti biasanya, dan saya pun langsung panik tanya sana sini termasuk Mbah Google. Yang bikin parno, salah satu artikel yang saya dapatkan malah menyebutkan kalau terjadi sesuatu pada janin jika sang ibu mulai tidak merasa mual. Beberapa sahabat saya yang sudah pernah hamil menenangkan, tidak mual bukanlah perkara yang perlu dibesar-besarkan tapi justru harus disyukuri. Sementara Ibu saya ikutan panik melihat saya yang parno berlebih. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya melalui email ke Dr. Devindran. Beliau menyarankan saya untuk mendatangi dokter kandungan dan melakukan pengecekan USG agar saya tenang. Ternyata memang saya saja yang parno berlebihan.

Minimnya informasi yang saya punya seputar kehamilan, membuat saya bergantung pada Mbah Google. Setiap kali ada pertanyaan, selalu saja Google yang jadi acuan saya. Padahal kan symptomps hamil pada setiap orang berbeda-beda, tidak bisa disama ratakan. Sejak hari itu saya memutuskan untuk tidak mau lagi bergantung pada Google. Lebih baik bertanya langsung pada dokter :)

Memasuki usia kehamilan 3 bulan, rasa mual dan lemas makin intese saya rasakan. Saya tidak mampu beraktivitas dan keluar rumah. Paling sesekali saja, kalau ke dokter atau lagi pengen makan sesuatu. Perjalanan di mobil membuat saya mual parah yang akhirnya berujung muntah. Pernah saya nekat pergi arisan di Gandaria City lalu malah muntah di tengah perjalanan. Untungnya di mobil ada plastik dan air mineral.

Saat pertama kali cek di Dr. Handi, dokter kandungan rujukan Dr. Devindran yang praktik di RS. Pantai Indah Kapuk, beliau menyarankan saya untuk melakukan test TORCH. Darah yang diambil saat itu cukup banyak, 5 tabung. Setelah pengambilan darah, saya agak merasa lemas dan langsung makan steak untuk mengembalikan energi. Selang beberapa minggu kemudian, saya pun melakukan test ACA, yakni pengecekan kekentalan darah karena saat itu saya sempat mendengar kalau kekentalan darah pada ibu hamil dapat menghambat perkembangan janin.

Di trimester ini, perut saya juga belum kelihatan hamil sama sekali. Tapi suami dan orang tua ngotot agar saya tetap menggunakan kursi roda kalau jalan jauh di mal. Saya sih nurut aja, karena saya juga agak takut kecapean sehingga mengeluarkan flek. Jadi saya pikir, lebih baik mencegah deh.

TRIMESTER KEDUA (13-28 minggu)
Kata orang trimester kedua adalah masa-masa paling indah selama kehamilan. Well, bisa dibilang itu juga yang saya rasakan. Mual dan muntah perlahan hilang. Sugesti janin yang sudah mulai kuat saat memasuki usia 4 bulan membuat saya semakin percaya diri. Walaupun aktivitas saya juga masih sebatas ketemuan dengan teman dan sahabat, makan enak, pokoknya hal-hal yang bikin hati saya senang dan tidak stress. Meski energi sudah mulai pulih, namun pekerjaan masih belum berani saya terima sampai saat ini. Pokoknya saya ingin kehamilan ini bebas dari rasa stress. Hehe..

Perut saya juga mulai membuncit saat memasuki usia kehamilan 19 minggu. Sebenarnya agak bikin kepikiran juga sih, setiap kali ada yang bertanya, "kok tidak kelihatan seperti hamil kembar?" atau "kok perutnya belum kelihatan?". Pertanyaan-pertanyaan seperti itu cukup bikin saya parno sih, walaupun saya selalu berusaha menyikapinya dengan santai. Apakah ada yang salah dengan janin saya? Akhirnya saya pun bertanya pada Dr. Handi. Menurut beliau, saya punya rongga perut yang cukup besar sehingga meski hamil kembar pun tidak terlalu kelihatan. Padahal setiap kali USG, berat badan si kembar selalu bertambah normal. Beliau pun menambahkan, "nanti kalau kamu sudah hamil 5-6 bulan, baru akan kelihatan perubahan drastis di perutmu".

Di usia kehamilan 22 minggu, Dr. Handi merujuk saya untuk melakukan pemeriksaan pada Dr. Azen Salim. Konon beliau adalah ahlinya dalam mendeteksi kelainan pada janin. Saat itu saya dan suami mendatangi praktiknya di Archa Clinic di BSD. Atas instruksi Dr. Handi, saya membuat appointment 2 minggu sebelum kedatangan. Kliniknya cukup bagus, bersih dan yang paling penting antrinya nggak lama. Dokternya pun cukup informatif, ngajakin babies-nya ngobrol dan becanda terus sampai-sampai saya yang lagi tiduran ikutan ketawa mendengarnya. Saat itu kami juga melakukan USG 4D yang cukup bikin terharu biru setiap kali melihat foto dan videonya. Alhamdulillah, semua pengecekan hasilnya normal. Si suami yang juga parnoan bertanya ke dokter, "Dok, benar kan semua hasilnya bagus? Dokter ngomong jujur kan, nggak ada yang ditutup-tutupi?". Si Dr Azen pun menjawab, "Saya selalu ngomong apa adanya pada pasien. Kalau memang ada masalah, pasti saya utarakan agar kedua orang tuanya bisa lebih siap".



Perjalanan kehamilan saya dari trimester pertama ke kedua terbilang cukup lancar. Tidak ada keluhan yang berarti, hanya rasa paranoid berlebihan saja yang sangat mengganggu pikiran saya. Hanya saja saya sempat merasa gatal-gatal di seluruh badan. Rasanya ingin digaruk sekuat tenaga, padahal banyak yang melarang. Nafsu makan sayapun cukup menggila. Total berat badan saya naiknya juga cukup drastis, 10kg dalam waktu 4 bulan. Menurut Dr. Handi, setiap tubuh punya hormon yang berbeda-beda. Tapi saat itu beliau menyarankan agar saya mengurangi karbohidrat dan memperbanyak protein dan sayuran hijau. Bukan apa-apa, berat badan yang naik drastis pada ibu hamil dapat menimbulkan resiko preeklampsia, gestational diabetes, dan penyakit berbahaya lainnya. Sejak saat itu saya mulai sedikit menjaga makan, demi kepentingan saya sendiri dan juga si kembar.

TRIMESTER KETIGA (29 minggu-37 minggu)
Memasuki trimester ketiga rasanya semakin deg-degan. Antara berasa ingin terus hamil sama pengen cepat-cepat ketemu si kembar. Kenapa pengen terus hamil? Karena saya pribadi ngerasa bahagia banget ada 2 malaikat yang menyatu dengan badan saya yang terus saya bawa kemana-mana. Trimester ketiga ini sudah lebih santai. Meskipun perut semakin besar dan berat, tapi saya menjalaninya dengan bahagia. Nafsu makan sudah lebih terkontrol. Tidak segragas trimester kedua. Setiap kali saya makan agak banyak, langsung berasa bega banget dan sesak nafas. Mungkin kapasitas perut sudah tidak mencukupi saat itu. Kontrol dokterpun jadi lebih sering, setiap minggu untuk mengecek perkembangan si kembar. Sempat beberapa kali harus CTG guna mengecek detak jantung si kembar dan jarak kontraksi. Pertama kali CTG saat usia kehamilan 34 minggu setelah melakukan suntik pematangan paru. Suntik ini dianjurkan bagi ibu hamil kembar dan beresiko prematur. Suntik pematangan paru sendiri dilakukan sebanyak 3 kali. Saat suntik pertama entah mengapa saya merasa mules. Entah efek suntik atau salah makan. Tapi selanjutnya justru baik-baik saja.

Memasuki usia hamil tua, Dr. Handi mulai mewanti-wanti saya untuk mulai lebih sensitif terhadap gerakan si kembar. Jika sewaktu-waktu saya merasakan kontraksi atau merasa gerakannya melambat atau berkurang, saya disarankan untuk segera ke RS terdekat dan melakukan CTG. Yah, namanya ibu-ibu parno, pernah saya buru-buru ke RS PIK karena panik pagi-pagi tidak merasakan gerakan. Malah saya sempat skip salah satu kelas AIMI karena ngerasa gerakan babies yang melambat. Untunglah, setelah dicek ternyata si kembar sepertinya sedang tidur makanya saat itu saya tidak merasakan adanya gerakan. Tapi pernah saat sedang CTG, detak jantung salah satu baby melambat. Ternyata setelah di USG, ruang dalam perut saya sudah mulai menyempit karena ukuran bayi yang semakin besar sehingga kepala keduanya sempat beradu. Tapi alhamdulillah tidak ada yang serius.

Memasuki usia kehamilan 35 minggu, Dr. Handi pun mulai menanyakan tanggal pilihan saya dan suami untuk melakukan operasi cesar. Katanya, kalau saya ingin mengeluarkan si kembar di usia kehamilan 36 minggu sebenarnya sudah aman. Namun akan lebih baik untuk menunggu hingga 38 minggu agar organ tubuh mereka semakin sempurna. Jika di awal kehamilan berat badan si kembar naik dengan normal, namun mendekati hari lahir berat badan mereka malah stagnan. Kata Dr. Handi, hal ini biasa terjadi pada kehamilan kembar mengingat ruang gerak yang semakin sempit. Jika tidak terdeteksi ada kelainan, berat badan rendah tidak perlu dikhawatirkan.


Tulisan mengenai pengalaman hamil ini sebenarnya sudah saya tulis saat masih hamil namun baru diselesaikan saat si kembar berusia 2 bulan 6 hari. Semoga bisa bermanfaat bagi yang juga tengah hamil kembar. Pengalaman melahirkan akan saya bagikan pada post selanjutnya.

Monday, March 21, 2016

Common Questions During Two Weeks Wait

Setelah melaksanakan prosedur IVF selama hampir 2 minggu, lalu masuklah ke masa 2 minggu yang paling mendebarkan, atau yang lebih dikenal dengan istilah 2 weeks wait (2WW). Saya pribadi justru merasakan nervous berlebihan itu saat memasuki 1 minggu terakhir. 1 minggu pertama justru masih terasa santai dan rileks. Entah mengapa.

Saya akan coba merangkum beberapa pertanyaan beserta jawaban versi saya yang selama 2WW terus bersileweran di benak. Sekali lagi perlu saya tegaskan, jawaban saya disini murni pendapat pribadi dan hasil sharing dengan beberapa teman. Saya ingin bagikan disini siapa tahu bisa bermanfaat bagi mereka yang juga lagi deg-degan melalui proses 2WW. Okay, here we go.

 Q: Haruskah bedrest saat 2WW? 
 A: Sebenarnya tidak harus. Tidak ada fakta medis yang mensahkan kalau bedrest total akan menjamin keberhasilan proses IVF. Namun banyak yang ketakutan dan paranoid kalau embrionya tidak akan menempel di rahim kalau melakukan gerak yang terlalu banyak, termasuk saya. Saya sendiri cukup ketakutan kalau sudah terlalu banyak jalan. Takut tiba-tiba flek dan embrionya tidak menempel. Dan karena saya belum pernah hamil, jadi saya tidak tahu seberapa kuat rahim saya. Apalagi mendengar begitu banyak teman yang keguguran saat hamil muda karena kecapean. Maka, saya memutuskan untuk bedrest total, tidak banyak gerak, tidak banyak pikiran dan berusaha rileks dan tidak stress. Jadi, kalau kamu termasuk orang yang paranoid seperti saya, maka lebih baik bedrest daripada harus menyesal di kemudian hari kalau-kalau proses IVF kamu gagal. Tapi kalau sudah bedrest belum juga berhasil, setidaknya tidak ada yang perlu kamu sesali karena telah berusaha menjaganya semaksimal mungkin.

 
Q: Apa yang harus dikonsumsi selama 2WW?
A: Selama 2WW, perlakukan tubuh layaknya sedang hamil. Makan makanan bergizi, kaya protein, mengandung asam folat. Dokter menganjurkan saya untuk terus mengonsumsi putih telur rebus sebanyak 2-3 butir per hari. Ibu saya menambahkan bubur kacang hijau dan susu kedelai sebagai penambah protein. Dan atas saran salah seorang teman saya yang juga lagi TTC, Ima, setiap hari selama 2 minggu itu saya selalu makan ikan gabus. Konon katanya ikan gabus mengandung protein tinggi yang sangat bagus untuk ibu hamil. Sesekali keberadaan ikan gabus digantikan oleh ikan lele yang juga mengandung protein tinggi. Untuk sayuran, saya pilih bayam dan brokoli yang mengadung asam folat. 

Q: Apa yang tidak boleh dikonsumsi selama 2WW?
A: Saat saya menanyakan ini ke Dr. Dev tepat setelah embryo transfer, beliau menjawab "tiger meat, elephant meat". Tentu saja jawaban candaan. Jadi maksudnya, boleh makan apa saja yang kita inginkan selama itu sehat dan tidak berlebihan. Kalau saya pribadi menghindari makanan yang mengandung MSG, bakso, dan jajanan enak namun tidak sehat lainnya. Saya juga stop minuman dingin, termasuk es, soda. Agar tidak dehidrasi, saya juga banyak minum air putih, minimal 8 gelas sehari. 

Q: Normalkah kalau keluar flek?
A: Di hari kedua setelah embryo transfer, saya sempat keluar flek berwarna pink. Karena panik, saya langsung menelepon klinik. Menurut suster, flek disebabkan karena kateter yang masuk setelah proses embryo transfer. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama darah yang keluar tidak banyak. 

Q: Apa yang dirasakan selama 2WW?
A: Di 1 minggu terakhir penantian, saya mulai merasakan payudara yang mulai membesar dan rasanya berat sekali. Terutama saat baru bangun dari tempat tidur rasanya sulit sekali mengangkat kedua payudara. Lalu disertai dengan perut kram persis seperti mau mens. Perut juga terkadang terasa ngilu dan ketarik, terutama saat bersin, kentut bahkan ketawa. Hehe.

Q: Bagaimana posisi shalat selama 2WW?
A: Seharusnya selama 2WW bisa saja shalat dalam posisi berdiri seperti biasa. Namun saya pribadi menjalankan ibadah shalat dalam posisi duduk.

Sejauh ini hanya itu yang sering ditanyakan orang-orang pada saya perihal masa 2WW. Please, feel free to comment below kalau memang ada pertanyaan yang sekiranya belum tertera di postingan ini. Sebisa mungkin akan saya jawab :)

TWO WEEKS WAIT

Setelah proses Embryo Transfer (ET) yang dilakukan pada tanggal 18 September 2015, masuklah saya ke masa-masa yang katanya paling mendebarkan. Yakni 2 weeks wait (2WW) atau menunggu hasil beta HCG selama 2 minggu. Bagi saya, penantian di satu minggu pertama justru tidak terasa sama sekali. Namun ketika mulai memasuki minggu kedua, jantung rasanya semakin berdebar, rasa penasaran semakin memuncak plus parno yang berlebihan pula. Saya menghabiskan 2WW saya di rumah Ibu saya di Aceh. Saudara-saudara dan teman-teman yang datang berkunjung cukup menghibur dan mengalihkan pikiran saya. Selama 2 minggu pula saya membatasi gerak dan asupan makanan. Ruang gerak saya cukup sebatas tempat tidur, kamar mandi saja. Makanan selalu disajikan di kamar. Bahkan shalat pun saya lakukan dalam keadaan duduk. Bosan? Tentu saja. Tapi saya pikir ini adalah keputusan yang telah saya ambil dan saya harus bertanggung jawab dalam menjaganya. Memang tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa bedrest dapat meningkatkan peluang keberhasilan IVF. Tapi setidaknya saya telah berusaha semampu saya sehingga kalaupun usaha kali ini gagal, tidak akan ada penyesalan nantinya.

Tiba masa pembagian raport, saya dan Ibu saya pun berangkat ke Penang. Sementara suami berhalangan menemani karena kebetulan sedang bertugas di luar kota. Sejak saya di Aceh pun, suami tetap di Jakarta karena harus masuk kantor. Di bandara, saya selalu menggunakan wheelchair karena khawatir jalan jauh dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan pada embrio. Setiap ada yang bertanya, untuk menyingkat waktu saya selalu bilang kalau saya baru habis operasi. Yah, daripada harus menjelaskan panjang lebar nanti malah curhat jadinya. Hehe.

Di hari H, saya dan Ibu pagi-pagi sekali sudah berangkat ke rumah sakit. Antrian pengambilan darah hari itu rasanya lama sekali. Untungnya hasil langsung keluar 2 jam setelah darah diambil di hari itu juga. Awalnya saya dan Ibu berencana untuk makan siang diluar sambil menunggu hasil. Namun karena rasanya tidak tenang, maka kami memutuskan untuk tetap menunggu di rumah sakit. Sambil menunggu, kami bertemu dan mengobrol dengan beberapa orang Indonesia yang juga hendak menemui Dr. Dev. Berulang kali saya bertanya pada Ibu, "Ma, feeling Mama gimana?". Awalnya Ibu saya masih sok cool. Mungkin agar tidak menambah kepanikan saya. Tapi lama kelamaan, justru beliau yang lebih nervous dan berkali-kali bolak balik ke kamar kecil. Tiap kali suster lewat, ia selalu memberi kode kalau hasil kami belum keluar dan kami masih disuruh untuk sabar menunggu. Penantian 2 jam di ruang tunggu klinik dokter mengalahkan penantian 2 minggu. Sampai akhirnya nama saya pun dipanggil untuk masuk ke ruangan. Seperti biasa, Dr Dev selalu menyambut kami dengan senyuman sambil berkata, "So, where is Teuku?". Lalu sayapun menjawab, "He can not come. He's in Makassar right now". Dokter pun menyilakan kami untuk duduk seraya berkata, "You can call him now and tell him the good news. You're pregnant. Congratulations!". Saat mendengar kata-kata itu saya cuma bisa bengong, "Really doc? I think I'm gonna cry". Mendengar jawaban saya, Dr Dev dengan santai menjawab, "Well, you can cry now. Go hug your mom".

Air mata pun langsung membanjiri mata saya hari itu. Dan kalau diingat-ingat agak memalukan, karena saya nangisnya sampai sesengukan. Dan tentunya bukan saya orang pertama yang nangis bahagia di ruangan itu jadi sepertinya Dr Dev sudah cukup terbiasa. Setelah menyampaikan berita bahagia itu, Dr Dev pun meminta saya untuk melakukan USG untuk melihat keadaan embrio. Ukurannya masih sangat kecil. Dokterpun memberi wanti-wanti pada saya untuk tidak terlalu over excited atas berita ini karena memang masih terlalu dini untuk mengumbar kebahagiaan. Beliau mengingatkan saya untuk terus makan sehat, menjaga kandungan saya dan kembali lagi ke Penang 2 minggu kemudian untuk memastikan apakah embrio benar menempel di rahim dan juga mengecek kesehatan janin.



Saya pikir rasa parno dan was-was akan berakhir di masa penantian 2 minggu. Ternyata saya salah besar. 2 minggu setelah mengetahui saya positif hamil, saya masih belum percaya. Bahkan awalnya saya berniat untuk membeli testpack untuk memastikan kehamilan. Namun karena takut malah menambah keparnoan maka saya urungkan niat tersebut. Selama ini saya tidak merasa hamil sama sekali. Ciri-ciri hamil juga belum saya rasakan. Malah saya sempat berpikir, apa mungkin hasil darah saya tertukar dengan orang lain. Atau mungkin terjadi sesuatu pada kehamilan saya. Duh, benar-benar parno berlebihan yang justru bikin capek sendiri. Jangan ditiru ya!

Lalu saya pun kembali ke klinik Dr. Dev 2 minggu setelah pengecekan pertama. Kali ini saya berangkat bersama dengan kakak ipar yang juga kebetulan ingin berkonsultasi dengan Dr. Dev. Awalnya saya agak khawatir karena Ibu dan suami yang tidak ikutan. Bagaimana kalau nanti menerima kabar buruk lalu tidak ada mereka yang menenangkan saya. Lagi-lagi pikiran buruk yang menghantui. Namun saya coba berpikir positif kalau janin yang ada dalam kandungan saya dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun. Kedatangan kali ini tidak ada pengambilan darah hanya saja dokter melakukan pemeriksaan USG untuk mengecek janin. Tak disangka, kali ini saya kembali menerima kabar bahagia. Ada dua kantong janin yang terdeteksi melalui alat USG. Namun dokter kembali melakukan transvaginal untuk memastikan keberadaannya. Alhamdulillah, usia janin saya saat itu sudah masuk 6 minggu. "Can you see the flickerings? That's the babies' hearts," jelas dokter. "Your babies look like spectacles," guraunya sambil memperlihatkan layar USG. Lagi-lagi saya cuma bisa bengong dan kehilangan kata. Dan lagi-lagi dokter mengingatkan saya kalau kehamilan kembar harus dijaga dengan hati-hati karena resikonya lebih tinggi. Tadinya saya ingin menghabiskan trimester pertama di Aceh agar dekat dengan orang tua. Namun dokter tidak mengizinkan. Beliau menyarankan saya agar segera kembali ke Jakarta dan melakukan pengecekan dengan Dr. Handi.


Alhamdulillah, Allah menjawab doa-doa kami. Gagal berangkat haji lalu diberikan hadiah berupa kehamilan. Namun perjalanan saya dan suami belum berakhir. Kami masih punya kewajiban untuk dapat menjaga kehamilan ini agar calon anak-anak kami nanti bisa tumbuh sehat, sholeh/sholehah, tidak kurang suatu apapun. Mohon doanya ya, teman-teman.

Selama ini cukup banyak yang menghubungi saya untuk menanyakan apa yang saya rasakan setelah proses Embryo Transfer. Jawabnya, payudara terasa beraaaaat banget dan perut kram seperti mau mens. Tapi efek ini tentu saja berbeda pada tiap orang. Saran saya, selama 2WW, teruslah berpikiran positif, jangan terlalu banyak googling dan mendengar omongan orang karena itu justru menambah keparnoan. Dan yang paling utama, berpasrah diri dan teruslah berdoa. Hanya itu usaha akhir yang bisa kita sebagai manusia lakukan. Berserah diri pada kehendak Tuhan.

Oya, sedikit berbagi soal makanan yang saya konsumsi selama 2WW (ini juga banyak yang nanyain). Berikut listnya ya:
1. Rebusan putih telur (ini WAJIB ya, non negotiable)
2. Alpukat
3. Kacang ijo. Bisa diminum sarinya saja atau dibuat bubur.
4. Sayuran hijau, dimasak tanpa MSG sama sekali.
5. Ikan lele dan ikan gabus. Katanya sih kedua jenis ikan ini mengandung protein dan gizi tinggi.
6. Usahakan makan makanan yang bergizi dan non MSG selama 2WW
7. Hindari atau kurangi makanan pedas agar mencegah diare

Postingan ini memang sudah teramat sangat telat. Tapi saya berharap, semoga sharing dari saya dapat membantu teman-teman yang sedang berjuang mendapatkan momongan. Semoga cerita dan perjuangan kami dapat memberi harapan bagi kalian yang juga tengah berjuang. Terus semangat ya!

Tuesday, October 6, 2015

TRYING TO CONCEIVE


Everyone has their own trying to conceive stories. And here goes mine.

Saya dan suami menikah di awal tahun 2012. Sejak awal menikah, kami tidak pernah berencana menunda kehamilan. Selayaknya pasangan pada umumnya, beragam pertanyaan selalu kami hadapi. Mulai dari pertanyaan yang bernada perhatian, kepo atau sekedar basa basi. Semuanya tidak pernah saya ambil pusing, karena toh yang menjalani kami berdua. Namun pertanyaan paling juara adalah, "gimana perasaan kamu sudah 3 tahun nikah tapi belum punya anak?" atau "kamu belum punya anak kok tidak mau ikhtiar?". Hellooooo, emang perlu ya saya bikin pengumuman usaha apa saja yang kami tempuh untuk mendapatkan keturunan? Atau harus ya saya sedih terus memikirkan kenapa Allah belum mempercayakan keturunan pada kami? Selama ini saya percaya, manusia cuma bisa berusaha, Allah penentunya.


Saya rasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk berbagi perjalanan kami dalam memiliki keturunan. Karena saya yakin, cukup banyak pasangan di luar sana yang juga mengalami kegalauan yang saya dan suami rasakan.


***

Setelah 6 bulan menikah dan tak kunjung hamil, saya dan suami mulai khawatir. Kamipun mendatangi salah satu dokter di RS Bunda Cikini. Seperti prosedural dokter kandungan pada umumnya, saya pun diperiksa melalui transvaginal untuk pertama kalinya. Entah karena parno atau tidak rileks, sayapun muntah-muntah setelahnya. Hasil dari dokter, tidak ditemukan masalah dengan rahim saya. Lalu dokterpun menyarankan agar kami melakukan tes darah yang saya lupa detailsnya dan suami menjalani tes sperma. Setelah semua hasil keluar, kamipun kembali ke dokter. Tapi yang bikin kaget, saat melihat hasil darah saya dan suami, si dokter tersebut dengan santainya bilang, "oh, ini sih nggak akan bisa hamil". Mendengar omongan seperti itu tentu membuat saya dan suami shock berat. "Loh, kenapa dok?", tanya suami. Lalu masih tanpa rasa bersalah si dokter pun mengoreksi, "oh, ini hasil suami. Bisa sih kalau gitu". Ternyata beliau terbalik melihat hasil darah saya. Setelah itu saya dan suami pun berjanji kalau kami tidak akan pernah lagi kembali ke dokter tersebut. Jadi intinya, hasil darah saya dan suami terbilang bagus. Hanya saja ada masalah dengan hasil sperma suami.


Bersyukur sekali saya punya suami yang kooperatif. Ia suka rela ikut menemui dokter  dan mengonsumsi obat-obatan yang diberikan demi kebaikan kami bersama. Karena saya tahu, banyak sekali lelaki yang gengsi untuk memeriksakan dirinya. Seolah istrinya saja yang punya masalah ketika belum punya keturunan. Begitu pula dengan pandangan sosial di masyarakat kita yang selalu menganggap wanita adalah sumbernya. Perlu diketahui, untuk memulai program seperti ini, diperlukan kerja sama dan komunikasi yang baik dari suami istri tanpa memikirkan ego. Ini adalah ujian pertama, menurut saya. Mengakui kalau kita punya masalah dan mau memperbaikinya.


Berbekal tanya sana sini, termasuk googling yang tiada henti, kamipun mencari androlog yang bisa mengatasi masalah pada suami. Kami menemukan salah satu androlog yang praktik di RS Sam Marie. Cuma karena parno dengan RS Sam Marie yang terkenal dengan teori alergi sperma pada hampir semua pasiennya, kamipun menjumpai dokter tersebut di praktiknya di RS Sayyidah. Ternyata ditemukan ada varikokel pada suami. Namun dokter tidak menganjurkan operasi. Beliau hanya memberi kami berbagai macam vitamin. Seiring perjalanan, kamipun menemui shinshe di wilayah Mangga Dua. Namun sebelum sempat berhasil, shinshe tersebut meninggal dunia. Emang ya, nggak rejeki. Kamipun kembali ke pengobatan medis. Morula jadi pilihan kami saat itu. Sengaja kami pilih Dr. Ivan Sini karena kami tahu beliau yang terbaik di bidangnya. Atas saran beliau, kamipun menjalani proses inseminasi. Namun sayang, pada saat hari H, Dr. Ivan yang sibuknya naudzubillah itu berhalangan hadir sehingga digantikan oleh Dr. Anggi. Entah apa penyebabnya, inseminasi pertama kami gagal dan jadwal mens saya justru datang lebih awal. Selang beberapa bulan, saat menemani orang tua check up ke Island Hospital di Penang, saya pun iseng ketemu salah satu dokter ahli fertilitas disana. Pemilihan dokter saya lakukan secara random dan tanpa riset sama sekali. Pilihan saya jatuh pada Dr. Eric Soh Boon Swee. Tanpa kehadiran suami, dokter langsung menjadwalkan inseminasi di bulan berikutnya. Namun inseminasi kedua ini kembali gagal.


Kembali ke Jakarta, suami bertemu dengan salah seorang temannya yang ternyata juga punya permasalahan yang sama. Teman tersebut berhasil hamil alami setelah menemui salah satu dokter ahli fertilitas di Mount Elizabeth, Singapura. Saya lupa namanya. Tapi melihat resume-nya, ia cukup terkenal dan sering mengadakan seminar di Jakarta. Kamipun memutuskan untuk menemui dokter tersebut. Beliau sangat optimis kalau kami bisa hamil alami karena berdasarkan hasil transvaginal telur saya kuantitasnya cukup banyak. Sementara untuk sperma suami dapat diperbaiki dengan bantuan vitamin dan mengubah pola hidup. Menghindari panas di sekitar selangkangan, mandi dengan air dingin, berolah raga, kurangi intensitas naik sepeda, mengganti celana dalam dengan boxer berbahan satin, berhenti merokok dan no alcohol. Saat itu saya juga diberi resep obat suntik pembesar telur (saya lupa namanya) yang disuntikkan mulai hari ke-2 menstruasi. Biaya kami kali ini juga cukup mahal. Kalau dihitung-hitung, biaya vitamin dan obat suntik sudah menyamai biaya 2 kali inseminasi. Namun sayang, usaha kami kali ini juga belum membuahkan hasil.


Di salah satu perjumpaan, saya bertemu dengan salah seorang teman yang berhasil dikaruniai anak melalu proses IVF atau yang lebih dikenal dengan istilah bayi tabung. Saat itu saya dan suami masih belum siap mental untuk menjalani IVF. Apalagi selama ini dokter yang kami temui semuanya masih optimis kalau kami bisa hamil alami. Jadi saya pikir, biarlah IVF menjadi jalan terakhir bagi kami kalau sudah "mentok" nanti. Setiap kali bertemu dokter, tidak pernah sekalipun kami membahas kemungkinan IVF. Sampai akhirnya saya membaca perjuangan Alodita untuk memperoleh buah hati. Saat itu saya sudah langsung tertarik untuk berkunjung ke Penang dan menjumpai Dr. Devindran di Loh Guan Lye. Kami juga masih menimbang-nimbang plus minusnya IVF di Jakarta dan Penang. Terkendala jarak dan waktu yang terbatas, saya dan suami terlebih dahulu menemui Dr. Budi Wiweko di RS Yasmin RSCM. Saya sudah sempat menjalani HSG dan tes darah namun entah mengapa setahun berlalu, saya tak kunjung kembali ke Dr. Budi. Padahal saya banyak mendengar langsung cerita sukses mendapatkan momongan berkat bantuan beliau. Mungkin ini yang disebut belum berjodoh. 


Tahun 2015, saya dan suami mendapatkan kesempatan untuk naik haji. Kami tidak ingin menunda naik haji untuk mendahului program IVF. Saat itu saya pikir, bagaimana jadinya kalau program IVF ini gagal dan saya malah membatalkan untuk berkunjung ke tanah suci. Udahlah dosa terus ruginya dua kali, dong. Hasil kesepakatan dengan suami, kami akan naik haji dulu di tahun ini dan berhenti dari segala macam program agar bisa fokus beribadah nantinya. Sebenarnya sambil berharap bisa dapat mukjizat untuk tiba-tiba hamil alami juga sih.


Namun manusia cuma bisa berencana. Tuhan juga yang menentukan. Tiba-tiba mendapat kabar dari travel agent kalau quota naik haji kami baru diapprove untuk tahun depan sehingga gagal berangkat di tahun ini. Sedih, tentunya. Namun saya dan suami langsung berpikir, mungkin ini adalah petunjuk Allah agar kami bisa memulai program IVF terlebih dahulu. Disaat saya dan suami galau menentukan dokter di Jakarta atau Penang, seorang teman memberikan link ke blognya Sheggario yang berhasil hamil alami setelah kunjungannya ke Dr Dev. Setelah membaca pengalamannya, barulah saya dan suami mantap memutuskan kalau kami akan menemui Dr. Dev secepatnya.


AGUSTUS 2015


Pertengahan Agustus 2015, kami mulai menemui Dr. Dev. Berdasarkan hasil pertemuan dokter selama ini, saya dan suami mempersiapkan diri kalau ternyata suami diharuskan operasi. Sama sekali tidak terpikir oleh saya kalau ternyata justru saya yang diharuskan menjalani laparoskopi. Ketika dicek, ditemukan endometriosis di rahim saya. Saat itu saya shock, karena selama ini terlalu fokus untuk memperbaiki kualitas sperma suami sampai melupakan kondisi rahim saya sendiri. Dokterpun langsung menjadwalkan laparoskopi keesokan harinya. Tanpa persiapan apapun, hanya berbekal percaya pada dokter sayapun menjalani laparoskopi. Namun dokter menenangkan kami, kalau ini adalah operasi kecil. Setelah laparoskopi, sayapun diperbolehkan pulang. Namun karena asuransi, saya diharuskan untuk menginap satu malam. Awalnya saya meminta kamar kelas 1 agar suami bisa ikut menemani. Tapi dokter tidak mengijinkan. Menurut beliau, tidak perlu karena di kamar sharing juga suster akan rajin memantau keadaan. Akhirnya saya menginap di rumah sakit, sementara suami kembali ke hotel. 


Rasanya setelah laparoskopi? Nggak berasa apapun. Saya mulai dibius sebelum masuk ke ruangan operasi. Saat itu jam 11 siang. Ketika setengah sadar, saya langsung melihat jam dan ternyata sudah jam 1 siang. Karena tidak merasakan apapun, saya bahkan sempat bertanya pada suster di recovery room, "have I done?". Lucu juga sih kalau diingat-ingat. Yang tersisa setelah operasi cuma 3 baret kecil. Alhamdulillah, operasi berlangsung lancar dan tidak ditemukan adanya sumbatan apapun di saluran tuba saya. Ketika bertemu dokter, beliau menyarankan untuk langsung menjalankan program IVF di bulan berikutnya. Dan kali ini saya dan suami juga merasa lebih siap. Insya Allah Dr Devindran adalah jalan Tuhan untuk memberikan kami momongan. Amin.


 SEPTEMBER 2015 
 

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Saya berhenti sementara dari semua pekerjaan. Agak bikin kaget banyak orang sih, karena rencana IVF ini persiapannya terbilang cukup singkat. Tapi saya percayakan kata dokter. Menurut beliau, jika saya menunda program IVF, maka saya harus minum obat penunda mens agar endometriosisnya tidak kembali. Sebelum berangkat, saya pastikan agar semuanya under control sehingga tidak akan membuat saya stres nantinya saat memulai program. Dokter memprediksi jadwal haid saya akan datang lebih cepat setelah laparoskopi. Namun saya dan suami berangkat ke Penang sebelum jadwal haid karena ingin menemui dokter terlebih dahulu. Di hari ke-2 mens, jadwal suntik saya pun dimulai. Seorang suster mengajarkan saya cara meracik obat dan menyuntiknya di area perut. Sebenarnya dokter menyarankan agar suntikan kedua keesokannya dapat dilakukan di rumah sakit agar saya bisa menunjukkan pada suster kalau saya melakukannya dengan benar. Namun setelah percobaan pertama, suster bilang kalau saya bisa melanjutkan suntiknya sendiri tanpa harus kembali ke rumah sakit. Katanya, saya terlihat percaya diri saat memegang jarum suntik dan tidak gemetaran sama sekali. Yah, mengingat suntik menyuntik ini sudah pernah beberapa kali saya jalani sebelumnya. 

Di suntikan hari ke-5, saya kembali ke dokter untuk mengecek perkembangan telur. Saya sempat syok dan down saat dokter bilang jumlah telur yang ada di rahim saya cuma ada 8 telur. Kenapa syok? Karena selama 3,5 tahun bolak balik dokter, semuanya bilang telur saya banyak. Bahkan hasil HSG setahun yang lalu juga menunjukkan demikian. Sedih dan hopeless. Kata Dr. Dev, ini biasa terjadi pada wanita yang memiliki riwayat endometriosis. Jumlah telur akan menurun, katanya. Beliau pun menganjurkan saya untuk mengonsumsi putih telur sebanyak 4 butir per hari. Tidak puas dengan hanya mendengar kata dokter, saya pun iseng googling dan tanya sana sini. Benar saja. Banyak yang membesarkan hati saya bahwa kuantitas tidak menentukan keberhasilan IVF, melainkan kualitas. Saya kembali bersemangat mengonsumsi telur. Meski rasanya hampir muntah ngebayanginnya, tapi saya kembali memotivasi diri saya bahwa ini adalah untuk kebaikan saya sendiri. Hari pertama kedua sih masih semangat makan telur, tapi di hari-hari berikutnya saya sudah mati rasa. Tapi demi ya demi...

Tiba saat OPU (Ovum Pick Up) tiba, di tanggal 16 September 2015. Kebetulan hari itu adalah tanggal merah memperingati Hari Malaysia. Tapi Dr Dev tetap masuk karena memang jadwal OPU tidak dapat diganggu gugat. Saya masih deg-degan tiada henti. Apalagi mengingat jumlah telur yang tidak seberapa itu. Sebelum masuk ruangan operasi, saat ganti baju saya menyempatkan diri untuk berwudhu agar pikiran bisa lebih tenang. Tidak henti-hentinya saya berzikir dan membaca semua hafalan yang terlintas di kepala. Berbeda dengan saat laparoskopi, ketika menuju ruangan operasi saya masih dalam keadaan sadar. Deg-degannya berlipat ganda. Saya baru dibius ketika dokter tiba. Itu juga katanya bukan bius total. Tapi saya sama sekali tidak ingat apa yang terjadi di ruangan itu. Yang saya ingat betapa saya meracau nggak jelas dan kebanyakan soal makanan. Kebiasaan banget kalau teler, yang kebayang pasti makanan terus deh. Hehe. Alhamdulillah, proses pengambilan telur berjalan lancar. Saatnya menunggu kabar dari klinik mengenai embrio yang akan ditransfer nantinya. 

Selama menjalani proses suntik menyuntik di Penang, saya menyewa salah satu kamar di bungalow milik Mrs. Candy Bee di daerah Tanjung Bungah. Lokasinya cukup jauh dari rumah sakit, namun daerahnya sangat tenang dan bisa jalan kaki ke pantai yang letaknya di seberang bungalow. Selain itu, rumahnya bersih dan Mrs Bee juga sangat baik pada kami. Tampaknya pasien IVF diperlakukan sedikit istimewa. Saya tinggal disana selama 2 minggu. Namun setelah OPU, kami memutuskan untuk pindah ke hotel mengingat kamar yang ada di lantai atas. Saya agak parno naik turun tangga dan bepergian jauh naik mobil. Makanya memutuskan untuk pindah ke hotel dekat rumah sakit. 

Satu hari setelah OPU, kami tak kunjung menerima kabar apapun dari klinik. Saya dan suami mulai resah memikirkan kualitas embrio kami. Takut kalau ada apa-apa yang menghambat proses. Akhirnya karena tak sabar, suami pun menelepon klinik menanyakan kabar. Suster yang mengangkat telepon  memberi tahu kalau kami dapat melakukan ET (Embryo Transfer) keesokan harinya di tanggal 18 September 2015. Rasa deg-degan masih menggemuruh memikirkan kualitas embrio. Namun saya dan suami cuma bisa tawakkal berserah diri. Kami pasrah dengan segala hasil. Sesaat sebelum proses ET, embryologist menghampiri saya yang sudah bersiap masuk ke ruangan operasi. Ia mengabarkan mengenai kualitas embrio kami. Kebijakan di Loh Guan Lye, embrio yang dapat dimasukkan cuma 2. Dan yang dibekukan 2. Sehingga embrio yang diperlukan oleh pasien hanya 4 saja. Alhamdulillah, kami mendapatkan 2 embrio dengan grade 5 (yang paling tinggi) dan 2 embrio dengan grade 4. Di hari itu yang dimasukkan adalah 1 embrio dengan grade 5 dan grade 4. Sisanya dibekukan untuk proses selanjutnya. 


Saat proses ET, tidak dibius sama sekali. Semuanya dilakukan dengan kondisi pasien dalam keadaan sadar. Rasa sakit masuknya kateter tertutupi oleh rasa malu karena harus ngangkang di hadapan dokter dan suster. Tapi semuanya menenangkan saya. Bahkan sebelum proses ET, saya masih sempat bercanda dengan Dr. Dev dan para suster di ruangan. Proses ET dilakukan di ruangan operasi, tempat OPU dilakukan. Oleh karena itu, suami tidak diperkenankan masuk. Selama proses berlangsung, saya menggenggam erat selimut yang menutupi bagian kaki saya. Untuk mengurangi rasa gugup dan pikiran yang kesana kesini. Melihat saya yang bereaksi seperti itu, salah seorang suster berinisiatif menggenggam tangan saya di sepanjang proses sehingga saya bisa sedikit rileks. Prosesnya juga cuma 15 menit. Sempat tegang sewaktu dokter bilang, "it's quite difficult". Setelah proses selesai, barulah dokter menjelaskan kalau posisi rahim saya agak ke belakang sehingga dokter agak kesulitan saat memasukkan kateter. Selebihnya proses ET berlangsung dengan lancar. Tapi yang bikin sesak itu adalah harus nahan pipis. Lumayan lama lho. Perut harus diisi air sebelum ET. Lalu setelah ET, baru boleh pipis setelah 1/2 jam. Itu juga pipisnya di pispot yang dibawain suster di ruangan recovery soalnya belum boleh bergerak dulu selama 2 jam. Tapi saat itu pikiran saya, demi ya demi. Jadi semua rasa sakit, lelah hilang dalam sekejap.


***

Menulis pengalaman ini di blog untuk dibaca banyak orang bukanlah perkara mudah. Saya juga tidak terlalu banyak berbagi di sosial media perihal perjuangan saya dan suami dalam memperoleh keturunan. Namun kali ini saya pikir, begitu banyak orang yang juga berjuang dan butuh informasi. Saya terbantu karena Andra dan Sheggario berbagi ceritanya. Dan saya berharap, semoga cerita saya juga dapat membantu orang lain di luar sana. Setidaknya memberi sedikit pencerahan. Namun satu hal yang saya pelajari selama proses IVF ini, setiap tubuh memiliki sistemnya sendiri-sendiri. Kita tidak akan pernah bisa membandingkan kondisi tubuh kita dengan orang lain karena treatmentnya sudah pasti berbeda. Teliti dalam memilih dokter. Please make sure the doctor take a very good care of you and doesn't make rush decisions. Kalau perlu, cari second, third atau forth opinion. Saya tahu, memilih dokter terkadang cocok-cocokan. Namun yang bikin saya puas dengan Dr. Dev dan seluruh stafnya, saya percaya beliau benar-benar teliti dalam menghandle kasus saya. Beliau juga selalu memberi semangat pada kami.  Pernah suami bertanya pada dokter soal kekhawatirannya. Lalu sambil bergurau dokter menjawab, "you don't have to worry. This is not a unique case. A lot of people has the same problem as yours". Saya yakin, setiap pasiennya pasti merasa istimewa dengan treatment dan perhatiannya. Masuk ke ruang tunggu klinik Dr. Dev saya bertemu banyak orang, mostly Indonesians. Berbagi cerita dengan sesama pasien dengan segala latar belakang dan beragam macam perjuangannya. Saya merasakan energi positif and I feel there is hope. Would I recommend you to see Dr. Dev? Absolutely YES!


ps: This is my honest opinion based on my personal experience and I hope this post could help.


Saturday, February 14, 2015

PASSION FOR FASHION




Jujur saja, saya bukan pengikut fashion. Bukan berarti saya tak suka shopping, hanya saja fashion tidak terlalu menjadi prioritas saya. Sampai akhirnya saya memutuskan mengenakan hijab. Saya ingat betul kata-kata Ibu saya saat itu, meski berhijab bukan berarti tidak bisa terlihat fashionable. Justru dengan berhijab, seseorang itu lebih tertantang untuk dapat memadupadankan pakaiannya tapi harus tetap pada jalur. Bagaimana caranya agar pakaian yang sudah ada di lemari sebelum berhijab dapat digunakan secara maksimal tanpa mengenyampingkan hakikat utama berhijab. Sebelumnya, saya cukup nyaman dengan hanya mengenakan kaos, jeans, cardigans. Cuma itu andalan saya. Tapi sejak berhijab, saya semakin senang memadupadankan berbagai macam model pakaian diluar zona nyaman saya. Challenge accepted, pikir saya saat itu. Dan ternyata sesuatu yang tidak terlalu saya perhatikan itu malah menjadi passion saya yang terpendam sebelumnya.

Siapa yang menyangka beberapa tahun setelahnya saya malah menjadi seorang fashion stylist. Kesempatan itu datang ketika saya ditawari untuk bergabung dengan majalah Laiqa oleh duo Hanna dan Fifi. Awalnya mereka ingin saya ada di bagian tulis menulis. Namun akhirnya mereka menanyakan kesanggupan saya untuk beralih menjadi fashion stylist. Belum ada pengalaman profesional dalam styling, tapi saya yakin mampu memenuhi kesempatan tersebut. Akhirnya saya pun bergabung kedalam keluarga besar Laiqa selama kurang dari setahun. Bukan karena tidak suka dengan kerjaannya, tapi memang kerja kantoran sudah saya coret dari list. Rutinitas kantoran tidak membuat saya bahagia.

Berhenti kerja kantoran sejak akhir 2012 dan hingga saat ini menjadi freelance fashion stylist. Turns out, I love and enjoy it so much. Memang benar kata orang, if you love what you do then you will never work a day in your life.

Tuesday, February 10, 2015

MY MOTTO IN LIFE


Just bring the best in you and be the fantastical version of yourself!